Gelagat Makelarisasi Digital dari Hastag Aroma Maluku

ForumMaluku.com-Seremonial Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI)  yang difokuskan pada kota ambon menambah identitas maluku untuk menjadi barometer sebuah gerakan nasional berbasis digital, “sungguh luar biasa”  tentu kita akan bangga dengan identitas tersebut.  Namun pada bagian lain, orbitasi daerah yang masih sulit dan belum meratanya interkoneksi antar wilayah menjadikan belanja cipta nusantara hanya milik orang yang dekat dengan pusat “sinyal”.

Petani di jepang menawar stroberi langsung dari kebunnya, begitu juga petani skotlandia yang menjual anggur sambil berdiri disamping pohonnya, apakah petani dipedalaman maluku juga akan melakukan hal yang sama? menawar cengkeh, pala dan kakao sambil video call dengan calon pembelinya di Amerika?

Saya tidak pernah meragukan kemampuan e-commerce dalam meraup kemudahan dan keuntungan dalam sebuah perdagangan, namun keterbatasan sumberdaya dan prasarana menjadikan kita banyak bersabar dan terus berbenah diri untuk menjadikan e-commerce sebagai platform tindakan berdagangnya orang maluku. Robert E. Johnson, melihat e-commerce sebagai suatu tindakan melakukan transaksi bisnis secara elektronik dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi yang paling utama, Gary Coulter dan John Buddiemeir juga mengaitkan e-commerce dengan penjualan, periklanan, pemesanan
produk yang semuanya dikerjakan melalui internet.

Ketergantungan terhadap teknologi digital yang sengaja diciptakan namun tidak bisa digunakan.

Dalam pandangan saya, bukan kita tidak boleh menggunakan e-commerce sebagai platform, akan tetapi keterbatasan teknologi digital akan membuat pekerja atau pelaku usaha teralienasi dengan cara berdagang tersebut akibat keterbatasan pengetahuan sehingga besar kemungkinan akan melahirkan kelompok varian baru yang bernama “MTD” (Makelar Teknologi Digital) yang akan menguasai akses perdagangan akibat ketergantungan terhadap teknologi digital yang sengaja diciptakan namun tidak bisa digunakan.

Salah satu penguasaan penting terhadap teknologi digital adalah pengguna, apakah petani, nelayan, pengrajin di Maluku memiliki kemampuan yang realibel terhadap teknologi digital? Penyebaran sumberdaya manusia yang belum merata di Maluku menyebabkan riskan untuk terjadinya “kesalahan konsumsi” terhadap teknologi digital.

Dalam kutipan Wuryanta 2004, Don Tapscott seorang pemerhati perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Amerika Serikat dalam bukunya yang berjudul The Digital Economy, Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dunia sedang mengalami perubahan dari dinamika masyarakat industri yang
berbasis pada baja, kendaraan, dan jalan raya ke arah dinamika masyarakat ekonomi baru yang dibentuk oleh silicon, komputer, dan jaringan sehingga memiliki kontrol yang mendasar terhadap produksi, konsumsi dan distribusi. Aksesbilitas membutuhkan kompetensi individual maka kekhawatiran saya terhadap masyarakat Maluku hanya berhenti pada titik produksi, karena petani, nelayan dan pengrajin belum sepenuhnya memiliki kompetensi individual yang mumpuni untuk secara langsung mengoperasionalkan teknologi digital yang dimaksudkan.

Masalah berikutnya tentang ketersediaan prasarana digital yang lebih dominan pada daerah padat penduduk seperti ibukota provinsi dan kabupaten, sementara wilayah selain itu masih sulit bahkan belum tersedia sama sekali. Kondisi ini akan melahirkan rantai perdagangan yang sama dengan waktu sebelumnya yakni tingginya nilai produksi akibat transportasi.

Petani, nelayan dan pengrajin melek digital agar
mereka tidak lagi melewati mata rantai panjang untuk menjual hasil produksi yang sewaktu-waktu bisa dipermainkan dan dikontrol oleh pihak ketiga.

Era digital harus disikapi dengan serius, menguasai, dan mengendalikan peran teknologi dengan baik agar era digital membawa manfaat bagi kehidupan. Pendidikan harus menjadi media utama untuk memahami, mengusai, dan memperlakukan teknologi dengan baik dan benar sehingga dalam keraguan saya masih terselip optimisme ketika pemerintah mampu membuat petani, nelayan dan pengrajin melek digital agar
mereka tidak lagi melewati mata rantai panjang untuk menjual hasil produksi yang sewaktu-waktu bisa dipermainkan dan dikontrol oleh pihak ketiga.

Upaya untuk pemerataan ketersediaan prasarana digital terutama pada pusat produksi yang berada diluar ibukota kabupaten serta adanya kontrol terhadap
platform e-commerce yang terkait produk masyarakat Maluku, jangan sampai reposisi masyarakat modern ke milenium menjadikan masyarakat Maluku menjadi masyarakat yang semakin konsumtif.

 

Oleh : Dr. M Chairul Basrun Umanailo, M.Si (Sosiolog Universitas Iqra Buru)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •