GUNUNG BOTAK : Antara ‘Kesejahteraan dan Malapetaka’

ForumMaluku.com-Pada tahun 2011 silam, Tambang Emas (Gunung Botak) ditemukan pada dusun wamsait, desa dava, Kec waelata, Kabupaten Buru, setalah ditemukan kandungan emas di wilayah tersebut.

Informasi tentang penemuan emas tersebut di benarkan oleh pemerintah Kabupaten Buru kala itu dan tersebar dengan cepat keseluruh penjuru tanah air.

Informasi yang telah beredar kemudian merangsang berbagai elemen masyarakat dari seluruh penjuru tanah air yang kemudian berdatangan hingga Kabupaten Buru dipenuhi oleh para penambang kala itu.

Tanah dengan kandungan emas tersebut merupakan tanah ulayat warga setempat, sehingga pergolakan sering terjadi antara pemerintah dan warga setempat pada wilayah tersebut. Pergolakan yang terjadi didasari atas ketidakinginan masyarakat adat untuk di atur oleh pemerintah daerah.

Sementara itu, konflik antar penambang emas, dan penambang emas dengan masyarakat pribumi terus terjadi.
Di kabarkan pada tahun 2012 bentrokan yang terjadi antara penambang emas dengan penduduk asli yang menewaskan beberapa orang.

Bentrokan terjadi didasari atas perebutan lahan penambangan antara penduduk asli dengan para penambang dari luar pulau Buru. Konflik yang berkepanjangan pun terus berjalan, kontra ofensif yang tak berujung mengakibatkan berbagai korban jiwa dari berbagai pulau terus bertambah.

Adapun dampak atas kedatangan para penambang dan praktik prostitusi yang tak ter-elakkan mengakibatkan meningkatnya jumlah perceraian yang semakin masif dan berdampak negatif terhadap psikis anak atas perpisahan orang tua-nya.

Mahasiswa dengan alih-alih sebagai masyarakat intelektual melakukan pembelaan terhadap rakyat dengan dalih ‘KESEJAHTERAAN’ yang berujung pada demonstrasi besar-besaran. Tuntutan tersebut melahirkan gejolak terhadap kelompok mahasiswa lain yang berujung pada demonstrasi ‘Tandingan’.

Kemudian, masyarakat Pulau Buru dari berbagai lapisan beralih profesi menjadi penambang emas. Mulai dari Guru, petani, nelayan dll. Peralihan profesi tersebut terkhusus-nya guru, sehingga pulau buru antara tahun 2013 hingga 2014 mengalami kekurangan tenaga pengajar kala itu.

Kekurangan tenaga pengajar (GURU) sudahlah tentu berdampak pada mutu pendidikan anak sebagai penurus generasi bangsa. Sebagaimana yang diamantkan oleh UUD 1945 pada pasal 31 juga pada pembukaan UUD alinea ke-4.

Adapun, komoditas perikanan serta pertanian pun menjadi ancaman atas limbah mercuri yang mengalir ke sungai dan masuk ke dalam tanah. Sebab telah ditemukan penyakit kaki gajah di pulau buru pada tahun 2015 silam, dimana penyakit tersebut baru ditemukan semenjak tambang emas dibuka.

Persoalan ini haruslah menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, pemerhati lingkungan, dan lembaga-lembaga terkait. Sebab tuntutan atas kesejahteraan dan pemulihan ekonomi rakyat haruslah dipertimbangkan secara kolektif dari berbagai perspektif.

Pemerintah dan Polres P. Buru harus tegas dalam menyikapi masalah ini, sebab gunung botak telah ada sejak tahun 2011 silam dan penutupan gunung botak telah di lakukan sejak tahun 2015, namun penambangan liar masih tetap berjalan sehingga gejolak yang tak henti pun kian membara di tengah-tengah masyarakat.

Gunung Botak bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat kabupaten buru. GB telah ada sejak tahun 2011 silam, namun Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang ‘Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup’ baru di gaungkan pada beberapa pekan yang lalu.
Bukankah ini sebuah lelucon yang di tonjolkan, kenapa baru sekarang? apakah UUPPLH membutuhkan waktu 11 tahun untuk di gaungkan setelah sadar?.

Disamping itu, seluruh peristiwa yang ada baik pembunuhan, perceraian, hingga pengrusakan lingkungan tidak-lah seburuk tahun 2011 hingga marak-nya tambas emas di pulau buru.
Tambang emas (gunung botak) kini sudah berusia 11 (Sebelas Tahun) dengan status yang tidak jelas.

Gunung botak membutuhkan peran penting pemerintah daerah untuk di legal-kan sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat kabupaten buru, karena kesejahteraan tanpa keamanan, keselamatan dan kerukunan, sama hal-nya dengan melepaskan garam di tengah lautan.

Tuntutan kehidupan dan kepentingan janganlah menyelimuti akal sehat untuk mengatakan benar adalah benar dan salah adalah salah. Sebab dunia tanpa kerukunan, kesukaan dan kemesraan adalah dunia tanpa nilai.

Kesejahteraan pun haruslah di-iringi dengan keselamatan dan keamanan yang selaras dengan maksud dan tujuan hukum, agar gunung botak tidak dijadikan sebagai objek pertentangan antara kantong yang membumbung atau korban jiwa yang tak berujung.

Oleh : Fajar Buamona,

Mahasiswa Hukum Universitas Iqra Buru

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •