Milad Ke-74 Dan Spirit Pembagunan Graha Hmi

Oleh : Moh. Ridwan Litiloly

(Ketua Umum Hmi Cab. Namlea)

Usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 2021 ini –menurut perhitungan gerak edar Matahari- memasuki umur 74 tahun.

Sudah menjadi kebiasaan, selalu ada refleksi, dan evaluasi atas perjalanan yang telah dilalui untuk kemudian diproyeksikan gerak langkah strategi perjuangan untuk kebaikan ke depannya.

Kondisi HMI beberapa waktu terakhir ini memang banyak diterpa badai, baik yang datangnya dari internal maupun dari luar Hmi itu sendiri.

Gejolak yang harus menjadi catatan kritis bagi seluruh kader-kader Hmi se-Nusantara adalah terbagi duanya kepengurusan yang merembet sampai ke beberapa cabang bahkan sampai ketingkat komisariat.

Hal ini tentunya sangat mengganggu ritual kekaderan sampai ketingkat akar rumput di batang tubuh Hmi.

Hajatan Kongres Ke- XXXI yang direncanakan pada 17 maret 2021 di Surabaya, juga harus menjadi momentum klimaksnya dinamika yang kontrproduktif tersebut.

Sehingga spirit kekaderan dalam memproduksi kader Umat dan kader Bangsa dapat berjalan dengan baik sebagai mana mestinya.

Kekwatiran dan kewarasan dalam menjaga spirit kekaderan juga di rasakan di ruang lingkup Hmi Cabang Namlea.

Meskipun turut serta terseret dalam dinamika dan pergulatan yang tidak produktif dari PB HMI (Dua Kepengurusan) Namun ikhtiar dalam menjaga stabilitas ruang-ruang silaturahmi dan intelektual tetap di jaga.

Meskipun Hmi baru bertengker di Namlea berkisar tahun 2000 awal, Doktrin perjuangan yang tertanam sama lamanya dengan kelahiran Hmi di NKRI.

Segala upaya dilakukan untuk merekonstruksi lembaga ini agar lebih baik. Dimensi-dimensi yang di upayakan bukan hanya sekedar hard ware (perangkat keras), tetapi juga soft ware (perangkat lunak) dan brain ware (programer). 

Dan sampai detik ini upaya memodernisasi lembaga masih gencar di lakukan dengan mendorong keluarga besar HMI untuk membangun sekretariat permanen dengan segala pirantinya.

Sehingga ada tempat  mempertemukan puluhan, ratusan bahkan ribuan isi kepala, untuk saling mengasih, mengasuh dan mengisi pada wacana-wacana intelektual.

Sebagi pusat yang nantinya akan mempertemukan antara sesama kader dan alumni HMI, pembangunan graha menjadi sangat urgen.

Belajar dari perjalanan baginda Nabi Muhamad, SAW yang menjadikan masjid sebagai pusat peradaban umat Islam, kiranya spirit tersebut harus dikutip dan diwujudnyatakan dalam pembangunan Graha Insan Cita.

Graha harus menjadi wadah pusat rekonsiliasi bagi seluruh kader dan alumni Hmi. Sebagi masyarakat intelektual, gerakan HMI dan KAHMI harus selaras terstruktur dan sistematis dalam menterjemahkan tujuanya.

Semua itu bisa terjadi ketika terfasilitasi dengan sebuah tempat yang menjadi simbol pemersatu untuk semua kader dan alumni HMI.

Simbol yang mampu meruntuhkan faksi-faksi kepentingan eksternal para alumni, simbol yang memediasikan agar setiap alumni menyisipkan tujuan HMI dan KAHMI dalam keseharian para kader dan alumni, dan simbol yang mempertegas tanggung jawab Hmi dan KAHMI bagi umat, bangsa dan  Pembangunan di daerah Kabupaten Buru.

Urgensi pembangunan Graha Insan Cita hasur dipertegas  sebagai tempat melahirkan kader-kader umat dan bangsa. Membantu mewujudkan amanah Undang-Undang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentunya tidak berlebihan apabila dikatakan semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara  saat ini sedang mengalami keguncangan dan kegamangan yang mengancam aspek kehidupan social masyarakat.

Hal ini menuntut semua pihak dalam merespon segala perubahan yang terjadi, sehingga menghindari persoalan-persoalan destruktif di tengah-tengah masyarakat.

Semua ini terpulang kepada masing-masing individu untuk kita menilainya (self assessment), mari  sejenak renungkan kembali masing-masing, sebagai sesama Kader dan Alumni HMI yang dalam syair lagu Hymne HMI ditorehkan salah satu bait: “Turut Qur’an dan Hadis, Jalan Keselamatan”.

HMI sebagai organisasi kemahsiswaan mempunyai tujuan: ”Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala” (vide Pasal  4 AD HMI).

Apa yang menjadi tujuan HMI tersebut juga sejalan dengan tujuan KAHMI sebagai wadah bagi para alumni HMI yaitu: ”Terwujudnya cendikiawan muslim yang mampu menjalin hubungan kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka perjuangan mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT” (Pasal 6 AD KAHMI).

Sebagai suatu entitas elemen bangsa maka HMI-KAHMI mempunyai tanggung jawab besar dalam menjamin kelangsungan, keutuhan, kedaulatan, kemajuan bangsa dan yang tercinta ini.

Serta perwujudan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk itu HMI-KAHMI secara organisatoris harus mampu dan tampil di garis terdepan dengan konsep dan tindakan kongkrit.

Semua itu dapat terwajatahkan, khususnya untuk Hmi dan Kahmi yang berada di Kab. Buru, apabila pembangunan Graha Insan Cita ini di anggap sebagai konstruksi simbol soliditas kader  dan alumni HMI.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.