PPKM, Optimisme dan Kesadaran Sosial

Kebijakan penerapan PPKM darurat daerah Jawa dan Bali beberapa hari ini, lonjakan kasus korona dan kematian pasien Covid-19 masih terus terjadi. Masih banyaknya pelanggaran disiplin kesehatan dan belum terpenuhinya target pengetesan dari pemerintah menjadi ujian keseriusan PPKM darurat.

ForumMaluku.com-Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat untuk wilayah Jawa-Bali mulai 3 Juli 2021 sampai 20 Juli 2021. Sebanyak 122 kabupaten dan kota di wilayah ini harus membatasi kegiatan masyarakat lebih ketat dibanding kebijakan pembatasan sebelumnya.

Tujuannya untuk menekan laju penularan di Jawa-Bali yang menjadi episentrum lonjakan kasus. Namun kenyataanya pada 8 Juli 2021, penambahan kasus harian malah menjadi yang tertinggi sepanjang pandemi di Indonesia.

Terkait dengan belum efektifnya dampak PPKM Darurat daerah jawa dan bali, pemerintah melalui mentri keuangan Sri Mulyani saat rapat banggar bersama DPRRI senin (12/07/2021) memberi singnal terjadinya perpanjangan PPKM darurat menjadi 6 pekan.

Hal ini diduga selama pemberlakuan PPKM darurat belum mendapatkan hasil yang maksimal, skenario ini juga dipersiapkan jika selama masa PPKM berjalan tidak terjadi penurunan hingga dibawah angka 10.000 kasus perhari.

Kondisi ini tentu membuat kita tidak bisa terlepas pisahkan dari rasa berkeluh-kesah tentang betapa sulitnya situasi pandemi Covid-19. Pendapatan yang berkurang signifikan membuat orang-orang merasa terpuruk dan kesulitan melewati masa-masa sekarang ini.

Pierre-Olivier Gourinchas, dalam artikel yang dimuat di buku Mitigating the COVID Economic Crisis (2020) mengatakan krisis yang dihadapi dunia saat ini merupakan kombinasi antara krisis kesehatan dan ekonomi. Ini yang membedakannya dengan krisis-krisis pada periode sebelumnya.

 

Membangun Optimisme Ditengah Wabah

Situasi ini tentunya membutuhkan rasa optimisme dari kita semua. Ahmad Sarwat Lc, MA, dalam bukunya “Memetik Hikmah di Tengah Wabah”, yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing, memaparkan, dalam hadis Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad SAw bersabda, “Tidaklah penyakit menular tanpa izin Allah dan tidak ada pengaruh dikarenakan seekor burung, tetapi yang mengagumkanku ialah al-Fa’lu (optimisme), yaitu kalimah hasanah atau kalimat thayyibah (kata-kata yang baik).”

Kita tetap wajib bersikap optimistis dalam menghadapinya dan berucap kata-kata yang baik. Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Nabi saw dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu.

Rasa optimisme kini menjadi satu dari sekian banyak alternative yang membentengi diri agar masyarakat dapat bertahan dalam kondisi seperti ini. Tentunya Negara juga perlu hadir ditengah-tengah masyarakat dengan narasi-narasi yang dapat menumbuhkan girah dan semangat optimisme masyarakat dan mengimbangi pemberitaan media-media mainstream yang justru terkesan menggembosi mental masyarakat.

Framing yang terbangun ditengah-tengah masyarakat tentunya harus berimbang, antara laporan kasus Covid-19 yang terus meningkat sekaligus menimbulkan kematian di mana-mana, dan pemberitaan yang mengandung nilai edukasi agar masyarakat dapat menjadikan tantangan ini sebagai peluang dalam pengembangan ekonomi mandiri secara berkelanjutan.

Negara harus hadir sebagai fasilitator, terlepas dari membangun narasi-narasi edukatif dimasyarakat melalui media-media mainstream, pelatihan yang menumbuhkembangkan kreatifitas masyarakat patut gencar dilaksanakan.

Pentingnya Kesadaran Sosial

Persoalan krisis kesehatan, yang berdampak pada krisis ekonomi jika terus berlarut-larut tentunya juga akan berdampak pada krisis sosial. Bahkan krisi s sosial ini juga dapat berdampak pada stabilitas Negara dan bidang politik.

Potensi-potensi matarantai masalah ini yang harus diantisipasi dan dipersiapkan jika pandemi ini berlangsung dalam durasi yang panjang.

Indonesia harus memanfaatkan keuntungan modal sosialnya dimana Negara kita masih berada pada peringkat kelima dunia dari sisi kekuatan modal sosialnya, dan ranking paling atas dalam hal indeks memberi (world giving index).

Secara tidak langsung, modal sosial ini sangat membantu kerja pemerintah dalam menanggulangi pandemi. Memupuk kesadaran sosial ini harus terus digencarkan akar tetap terjaga dan bisa dikembangkan.

Sebagai alternatif solusinya socioprenreur di kalangan masyarakat, yakni program-program sosial yang dikerangkai dengan jiwa entrepreneurship agar program sosial tersebut dapat sustainable (berkelanjutan).

 

Oleh : Moh. Ridwan Litiloly *Mena* (Penggiat Sosial)

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •